![]() |
Add caption |
Setiap orang pasti memiliki rasa atau keinginan berupa nafsu, baik yang positif maupun negatif, asal tidak berlebihan. Nafsu bernilai positif, apabila disalurkan atau dipenuhi secara cukup atau yang dibutuhkan saja secara normal. Misalnya orang makan, apabila kekenyangan menjadi kebiasaan, maka akan banyak masalah yang timbul, rasa ngantuk dan malas bekerja, kegemukan, penyakit jantung, stroke, lama-lama akan terjadi kematian akibat komplikasi penyakit yang diakibatkan oleh konsumsi makanan yang berlebihan.
Nafsu yang dimanjakan, ibarat candu yang membuat manusia menjadi manusia tanpa etika dalam hidupnya. Karena akan banyak aturan-aturan yang akan dilanggar, baik yang dianut oleh masyarakat secara umum, aturan kesehatan, aturan ketertiban dan keamanan, serta dalam kehidupan beragama. Contoh kecil saja, seseorang mengkonsumsi minuman beralkohol menjadi mabuk dan tidak sadar dengan apa yang dikerjakannya, mengambil uang orang lain dengan paksa, atau melecehkan wanita yang ditemuinya dan lain sebagainya. Akhirnya yang akan dihadapi adalah sel tahanan karena melakukan tindak kriminalitas atau asusila.
Contoh lain, yang mungkin dianggap kurang beresiko dengan kriminalitas atau jerat hukum pemerintah, yaitu remaja bermain hingga lupa waktu. Ada beberapa kewajiban yang mungkin akan ditinggalkannya seperti melupakan belajar, tidak mau membantu orang tua di rumah, tidak melaksanakan sholat tepat pada waktunya, atau bahkan tidak pernah melaksanakan sholat dalam kurun waktu 24 jam masa hidupnya. Memang tidak akan ada jerat hukum yang serius dari pemerintah, namun apakah anda lupa dengan jerat hukum yang akan diberlakukan setelah anda meninggal ?. Jawabnya, “pasti ada” bagi orang yang masih ada iman dalam hatinya. Yaitu, hukum dari Sang Pencipta alam semesta, yang menciptakan langit dan bumi, Pencipta manusia dan makhluk lainnya. Sesuatu yang dianggap tidak merugikan orang lain, tidak boleh menjadi alasan seseorang untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran dan memperturutkan hawa nafsunya.
Saudaraku, kita mungkin tak akan pernah lagi melihat hari esok, karena kita tidak pernah bisa menebak atau meramal kapan hidup kita akan berakhir. Hari kemarin adalah masa lampau, hari esok masih misteri kehidupan, tetapi hari inilah milik kita. Akan kita apakan hari ini, mengisi tiap-tiap detik denyut kehidupan mulai kita bangun tidur, hingga malam menjelang. Apakah akan kita isi hidup ini dengan memuaskan hawa nafsu belaka. Kapan kita akan menjadikan diri sebagai hamba yang selalu ingin mendekat kepada Sang Pencipta.?
Apakah memuaskan hawa nafsu sudah menjadi kiblat hidup dan tujuan hidup paling akhir? Sungguh merugi, orang-orang yang menghiasi seluruh catatan amalnya dengan kemaksiatan. Apakah kenikmatan yang sekejab, menjadi alasan untuk mengorbankan kenikmatan abadi, dan menggantinya dengan laknat Ilahi.? Na’uzdubillahi min dzalik.