Jumat, 02 September 2011

NAFSU : Candu Kehidupan


Add caption



 Setiap orang pasti memiliki rasa atau keinginan berupa nafsu, baik yang positif maupun negatif, asal tidak berlebihan. Nafsu bernilai positif, apabila disalurkan atau dipenuhi secara cukup atau yang dibutuhkan saja secara normal. Misalnya orang makan, apabila kekenyangan menjadi kebiasaan, maka akan banyak masalah yang timbul, rasa ngantuk dan malas bekerja, kegemukan, penyakit jantung, stroke, lama-lama akan terjadi kematian akibat komplikasi penyakit yang diakibatkan oleh konsumsi makanan yang berlebihan.
Nafsu yang dimanjakan, ibarat candu yang membuat manusia menjadi manusia tanpa etika dalam hidupnya. Karena akan banyak aturan-aturan yang akan dilanggar, baik yang dianut oleh masyarakat secara umum, aturan kesehatan, aturan ketertiban dan keamanan, serta dalam kehidupan beragama. Contoh kecil saja, seseorang mengkonsumsi minuman beralkohol menjadi  mabuk dan tidak sadar dengan apa yang dikerjakannya, mengambil uang orang lain dengan paksa, atau melecehkan wanita yang ditemuinya dan lain sebagainya. Akhirnya yang akan dihadapi adalah sel tahanan karena melakukan tindak kriminalitas atau asusila.
Contoh lain, yang mungkin dianggap kurang beresiko dengan kriminalitas atau jerat hukum pemerintah, yaitu remaja bermain hingga lupa waktu. Ada beberapa kewajiban yang mungkin akan ditinggalkannya seperti melupakan belajar, tidak mau membantu orang tua di rumah, tidak melaksanakan sholat tepat pada waktunya, atau bahkan tidak pernah melaksanakan sholat dalam kurun waktu 24 jam masa hidupnya. Memang tidak akan ada jerat hukum yang serius dari pemerintah, namun apakah anda lupa dengan jerat hukum yang akan diberlakukan setelah anda meninggal ?. Jawabnya, “pasti ada” bagi orang yang masih ada iman dalam hatinya. Yaitu, hukum dari Sang Pencipta alam semesta, yang menciptakan langit dan bumi, Pencipta manusia dan makhluk lainnya. Sesuatu yang dianggap tidak merugikan orang lain, tidak boleh menjadi alasan seseorang untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran dan memperturutkan hawa nafsunya.
Saudaraku, kita mungkin tak akan pernah lagi melihat hari esok, karena kita tidak pernah bisa menebak atau meramal kapan hidup kita akan berakhir. Hari kemarin adalah masa lampau, hari esok masih misteri kehidupan, tetapi hari inilah milik kita. Akan kita apakan hari ini, mengisi tiap-tiap detik denyut kehidupan mulai kita bangun tidur, hingga malam menjelang. Apakah akan kita isi hidup ini dengan memuaskan hawa nafsu belaka. Kapan kita akan menjadikan diri sebagai hamba yang selalu ingin mendekat kepada Sang Pencipta.?
Apakah memuaskan hawa nafsu sudah menjadi kiblat hidup dan tujuan hidup paling akhir? Sungguh merugi, orang-orang yang menghiasi seluruh catatan amalnya dengan kemaksiatan. Apakah kenikmatan yang sekejab, menjadi alasan untuk mengorbankan kenikmatan abadi, dan menggantinya dengan laknat Ilahi.? Na’uzdubillahi min dzalik.

Selasa, 30 Agustus 2011

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Saya (Eko Wahyudi), Istri (Rini Astutik) dan Anak (Khansa Naurah Izzati)
Mengucapkan : 
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 
1 SYAWAL 1432 HIJRIYAH
"Minal 'Aidzin wal Fa'idzin"

Minggu, 28 Agustus 2011

IDUL FITRI : Hari Kemenangan Umat Beriman



Satu Bulan menjalankan Ibadah puasa, bukanlah sesuatu yang mudah, memerlukan pengorbanan dan kesabaran yang lebih, karena bukan hanya menahan makan dan minum saja, namun menahan nafsu dan amarah. Bagi muslim yang mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan, maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, dimana hari ini Allah Swt akan memberikan penghargaan teramat istimewa yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para nabi dan orang-orang shaleh, yaitu  ridha dan magfirahNya, sebagai ganjaran atas amal baik yang telah dilakukannya. Allah Swt juga pernah berjanji, tak satupun kaum muslimin yang berdoa pada hari raya Idul Fitri, kecuali akan dikabulkan.
Pertanyaannya, kira-kira puasa kita diterima apa tidak? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, ? Jawabnya, Allahu A’lam, kita tak tahu sejatinya. Tapi menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil dalam menjalankan ibadah puasa: ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat. Ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan. Ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana. Artinya penghayatan mendalam atas Ramadhan akan membawa efek fantastik, individu, maupun sosial.
Untuk itu ada beberapa makna idul fitri yang terbagi menjadi beberapa pengertian, yaitu :
·         Ied  dalam  pengertian  agama  adalah  bersyukur  kepada  Allah atas kesempurnaan  ibadah  yang  tidak  hanya  diucapkan  seorang  mukmin  dengan lisannya, akan tetapi bergelora dalam batinnya sebagai bentuk ridha dan tenang, nampak  pada  lahirnya  karena  senang  dan  dengan muka  berseri, membuka  di antara jiwa orang-orang beriman dengan muka cerah dan akrab, dan menghapus jarak di antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin.
·         Ied  dalam  pengertian  kemanusiaan  adalah  hari  bertemunya  kekuatan orang  kaya  dan  kelemahan  orang  miskin  di  atas  cinta,  kasih  sayang  dan keadilan dari wahyu langit yang berjudul: zakat, ihsan, dan lapang dada.  Ied  nampak  pada  orang  kaya,  maka  ia  melupakan  ketergantungannya pada harta, turun dari ketinggiannya seraya merendahkan diri kepada manusia dan  siap  menerima  kebenaran,  mengingat  bahwa  semua  orang  yang  ada  di sisinya  adalah  para  saudara  dan  penolongnya, maka  ia menghapus  kesalahan setahun dengan ihsan satu hari. Ied nampak pada orang fakir, maka ia membuang sakit hatinya, naik dari  ufuk  yang  tinggi,  melupakan  kesusahan  dan  kepayahan  selama  satu  tahun, keceriaan di hari  lebaran menghapuskan bekas kedengkian dan  rasa  jemu dari dirinya, dan lari di sisinya rasa putus asa di saat menangnya dorongan harapan.
·         Ied  (lebaran)  dalam  pengertian  kejiwaan  adalah  garis  pemisah  di  antara ikatan yang  jiwa tunduk baginya dan anggota tubuh merasa tenang kepadanya, dan d kebebasan yang tanpa batas untuk memuaskan hawa nafsunya.  
·         Ied  dalam  pengertian  waktu  adalah  bagian  dari  masa  yang  ditentukan untuk  melupakan  kesedihan  dan  mengesampingkan  beban,  serta  istirahat (rileks)nya kekuatan yang capek dalam kehidupan.
·         Ied  dalam  pengertian  sosial  adalah  hari  anak-anak  yang melimpah  rasa bahagia pada mereka, hari para fakir miskin yang mendapatkan kemudahan dan keluasan rizqi, hari seperti rahim yang mengumpulkannya di atas kebajikan dan menyambung  silaturrahim,  hari  kaum  muslimin  yang  menyatukan  mereka  di atas saling memaafkan dan mengunjungi, hari handai taulan yang diperbaharui pada  mereka  ikatan  kecintaan,  hari  jiwa  yang  mulia  yang  melupakan tekanannya.  Maka  berkumpul  setelah  berpisah,  menjadi  bersih  setelah  kotor, terbuka setelah sebelumnya mengerut.

Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan Ramadhan akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya? Itulah rahasia kenapa selamat hari raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan Minal A’idin wal Faidzin (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat). Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga bak pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 HIJRIYAH
MINAL A’IDZIN WAL FA’IDZIN

 Rujukan :
Muhammad bin Ibrahim al-Hamd. Di antara Pengertian Lebaran. www.Islamhouse.com.2009
_______, Makna Idul Fitri. www.abatasa.com. 2011