Sebagian orang berpikir memiliki rumah mewah, mobil senilai ratusan juta, tanah seluas Bandar Udara, deposito bertebaran dimana-mana dianggap bahagia dibandingkan dengan orang yang setiap harinya makan singkong rebus, berjalan tanpa alas kaki, atau rumah atau berdinding anyaman bambu. Apakah harta dapat digunakan sebagai tolak ukur kebahagiaan? . Jawabnya, “belum tentu”.
Karena manusia dalam dirinya memiliki hati yang dapat berubah-ubah dari senang, sedih, kecewa, marah, yang terungkap atau terlihat dalam gerak perbuatan dan semuanya bersumber dari dalam hati.
Mengapa orang bingung mencari di mana letak rasa “bahagia”, hingga mengeluarkan jutaan rupiah, berjalan-jalan hingga mengelilingi dunia, atau bahkan ada yang membuat rumah di pulau terpencil hanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Sesulit itukah mencari kebahagiaan?
Saat ini trend di kalangan remaja, mencari kesenangan untuk kebahagiaan dengan rutin clubbing (mendatangi klub malam), diskotik, “menjajakan diri” dengan free sex, dan menjadi pecandu narkoba. Mereka melakukan itu semua dengan menggunakan alasan klasik seperti kurang mendapatkan perhatian dari orang tua, agar diakui oleh teman, supaya dianggap hebat, demi kebahagiaan. Yang jadi masalah ialah, apa perlu mereka merusak diri sendiri, untuk mendapatkan kebahagiaan.
Salah satu contoh saja, pecandu narkoba yang mengkonsumsi NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya) hampir setiap hari, lambat laun tapi pasti kematian akan menjemput mereka lebih cepat dibandingkan dengan orang yang tidak mengkonsumsinya. Jelas, alasan menggunakan Narkoba dengan tujuan kesenangan dan kebahagiaan, namun di sisi lain tubuh akan menjadi rusak dan sakit.
Bagaimanakah cara mendapatkan kebahagiaan?
Banyak cara untuk mendapatkan kebahagiaan, antara lain :
1. Mulailah dari sekarang untuk beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan senantiasa menjaga keimanan tersebut di dalam hati
2. Berbuat baiklah kepada sesama makhluk, baik kepada manusia, hewan, tumbuhan atau lingkungan sekitar
3. Sibuk untuk bekerja atau belajar ilmu yang bermanfaat untuk kebaikan
4. Memusatkan pikiran untuk berkarya, tanpa harus dihantui oleh kesedihan masa lalu atau ketakutan di masa depan
5. Memperbanyak dzikir (mengingat) Alloh subhanahu wa ta’ala Sang Maha Pencipta
6. Mansyukuri nikmat yang ada atau yang telah dirasakan di masa lalu, baik yang Nampak atau tersembunyi
7. Melihat orang-orang yang “kurang beruntung” dibandingkan dengan diri kita
8. Melupakan penderitaan masa lalu yang pernah terjadi
9. Berdoa dengan sebaik-baik doa dan dengan cara yang baik
10. Memperkirakan kemungkinan yang buruk dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya
11. Tidak panik dan larut dalam kegagalan yang akan terjadi
12. Pandai dalam bergaul dan menjaga etika dalam bermasyarakat
13. Memiliki keyakinan bahwa perilaku buruk akan merugikan diri sendiri
14. Berpikir positif
15. Bertawakkal atas semua usaha yang telah dilakukan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.
Semoga dengan menumbuhkan beberapa hal di atas ke dalam hati, kebahagiaan yang kita cari akan tumbuh bersemi di dalamnya. Tanpa harus mencari kemana dan dimana lagi. Intinya bahwa kebahagiaan ada di dalam hati manusia.