Sabtu, 03 Maret 2012

MENYESAL KARENA BERPUTUS ASA


Ada pengalaman menarik saat dulu di luar Jawa, tepatnya di Kota Tanjungpandan Pulau Belitung tahun 2004 sampai dengan 2007. Tentang keluh kesah seorang anak gadis asli Belitung yang saat itu masih belajar di tingkat menengah atas, sebut saja Ana. Hubungan kami sangat dekat, boleh dibilang seperti Adik dan Kakak. Hampir tiap hari ada saja yang diceritakan oleh Ana saat ba’da sholat maghrib, kadang juga di malam hari saat ia berlatih Pencak Silat di halaman asrama tempat aku tinggal. Dia tinggal bersama ayah dan ibu asuh (bukan orang tua kandungnya), walaupun sebenarnya ibu kandung gadis itu masih hidup. Alasan dia tinggal bersama orang tua asuhnya salah satunya karena kebutuhan biaya untuk melanjutkan sekolah. Saya rasa orang tua asuhnya adalah orang yang sangat baik, bisa dibilang seperti itu karena mereka adalah pendatang dari Palembang. Secara logis, kenapa repot-repot membiayai anak orang lain, padahal anak kandungnya sendiri ada tiga orang, kalau dihitung pasti jumlah pengeluarannya sangat besar setiap bulannya.
Dalam kondisi orang tua asuh yang sangat baik seperti itu, masih ada cela dan kekurangan dari sudut pandang si Ana. Dia sering bilang, bapak angkatku orangnya galak, ibu cerewet, aku hidup di situ seperti pembantu, dan lain sebagainya. Sepertinya tidak ada nilai kebaikan yang diberikan dalam keluarga itu. Suatu hari pernah ngobrol bahwa dia sudah tidak tahan dengan kondisi itu, tapi tak kusalahkan dulu karena aku yakin pasti dia akan tersinggung. Kubiarkan dia bicara sepuasnya, sambil diiringi isak tangis. Terakhir ucapannya, “Aku ingin pulang ke ibu kandungku..!”. dengan ucapan ini kucoba menanyakan alas an sebenarnya. Singkat obrolan, aku ambil kesimpulan bahwa Si Ana ingin hidup bebas seperti teman-teman lainnya. Dia ingin main saat dia suka, belanja kaos, celana, cemilan, jalan-jalan ke pantai dan lain sebagainya.
Benarlah, keesokan harinya saya mendengar si Ana pulang ke orang tuanya tanpa berpamitan. Mendengar hal itu, ibu kandung si Ana marah besar padanya, dengan memaksa dia kembalikan anaknya ke orang tua asuhnya. Di sinilah kebaikan dan kebesaran hati lagi-lagi ditunjukkan dengan menerima kembali si Ana di rumah mereka. Dan kehidupan normal kembali seperti bisaanya dalam keluarga tersebut. Tetapi Ana melalui hari-harinya dengan senyum semu dari bibirnya, putus asa yang cukup mendalam. Ucapan dan nasekatku pun tidak dia hiraukan.
Bulan Juni 2007, saya kembali ke Malang dan tidak pernah mendengar kabarnya hingga akhir Pebruari 2012, kurang lebih 5 tahun komunikasi terputus begitu saja. Gara-gara jejaring sosial facebook, kami dipertemukan lagi dalam suasana yang berbeda. Dalam tampilan akun facebook milik Ana, saya melihat senyum yang betul-betul manis penuh keikhlasan sambil menggendong anaknya dan memiliki suami yang bertanggungjawab. Subhanalloh, Si Ana yang dulunya berkulit sawo kematangan, sekarang sudah kuning langsat. Kesan yang muncul bahwa hidupnya saat ini terawat dan sejahtera. Aku rasa dia menyesal pernah berpikiran buruk terhadap orang tua asuhnya dan berputus asa dalam hidupnya.
Ada beberapa hal penting yang perlu dicermati muncul dari diri remaja dalam bentuk sikap, akibat pola pikir yang berkembang tanpa dilandasi dengan rasa tanggungjawab, mawas diri, sensitifitas terhadap lingkungan dan kepedulian pada orang lain. Mereka cenderung berfikir bagaimana saya hidup senang layaknya teman-teman yang lain.
Misalnya remaja mau memperhatikan pengalaman hidup orang yang sudah berumur, mau merenungkan cerita perjalanan hidup orang lain, sangat mungkin hal tersebut bisa mendewasakan dan membentuk pola pikir remaja yang bertanggungjawab. Seharusnya, remaja tidak mengandalkan emosi untuk menyikapi hidup yang katanya semakin "keras" ini. Masih ada "CINTA dan KASIH SAYANG" dalam hidup kita, jadi janganlah "Berputus Asa".