
Dalam kondisi
orang tua asuh yang sangat baik seperti itu, masih ada cela dan kekurangan dari
sudut pandang si Ana. Dia sering bilang, bapak angkatku orangnya galak, ibu
cerewet, aku hidup di situ seperti pembantu, dan lain sebagainya. Sepertinya tidak
ada nilai kebaikan yang diberikan dalam keluarga itu. Suatu hari pernah ngobrol
bahwa dia sudah tidak tahan dengan kondisi itu, tapi tak kusalahkan dulu karena
aku yakin pasti dia akan tersinggung. Kubiarkan dia bicara sepuasnya, sambil
diiringi isak tangis. Terakhir ucapannya, “Aku ingin pulang ke ibu kandungku..!”.
dengan ucapan ini kucoba menanyakan alas an sebenarnya. Singkat obrolan, aku
ambil kesimpulan bahwa Si Ana ingin hidup bebas seperti teman-teman lainnya.
Dia ingin main saat dia suka, belanja kaos, celana, cemilan, jalan-jalan ke
pantai dan lain sebagainya.
Benarlah,
keesokan harinya saya mendengar si Ana pulang ke orang tuanya tanpa berpamitan.
Mendengar hal itu, ibu kandung si Ana marah besar padanya, dengan memaksa dia
kembalikan anaknya ke orang tua asuhnya. Di sinilah kebaikan dan kebesaran hati
lagi-lagi ditunjukkan dengan menerima kembali si Ana di rumah mereka. Dan kehidupan
normal kembali seperti bisaanya dalam keluarga tersebut. Tetapi Ana melalui
hari-harinya dengan senyum semu dari bibirnya, putus asa yang cukup mendalam. Ucapan
dan nasekatku pun tidak dia hiraukan.
Bulan Juni 2007,
saya kembali ke Malang dan tidak pernah mendengar kabarnya hingga akhir
Pebruari 2012, kurang lebih 5 tahun komunikasi terputus begitu saja. Gara-gara jejaring
sosial facebook, kami dipertemukan lagi dalam suasana yang berbeda. Dalam tampilan
akun facebook milik Ana, saya melihat senyum yang betul-betul manis penuh keikhlasan
sambil menggendong anaknya dan memiliki suami yang bertanggungjawab.
Subhanalloh, Si Ana yang dulunya berkulit sawo kematangan, sekarang sudah
kuning langsat. Kesan yang muncul bahwa hidupnya saat ini terawat dan sejahtera.
Aku rasa dia menyesal pernah berpikiran buruk terhadap orang tua asuhnya dan
berputus asa dalam hidupnya.
Ada beberapa
hal penting yang perlu dicermati muncul dari diri remaja dalam bentuk sikap,
akibat pola pikir yang berkembang tanpa dilandasi dengan rasa tanggungjawab, mawas
diri, sensitifitas terhadap lingkungan dan kepedulian pada orang lain. Mereka cenderung
berfikir bagaimana saya hidup senang layaknya teman-teman yang lain.
Misalnya
remaja mau memperhatikan pengalaman hidup orang yang sudah berumur, mau merenungkan
cerita perjalanan hidup orang lain, sangat mungkin hal tersebut bisa mendewasakan
dan membentuk pola pikir remaja yang bertanggungjawab. Seharusnya, remaja tidak mengandalkan emosi untuk menyikapi hidup yang katanya semakin "keras" ini. Masih ada "CINTA dan KASIH SAYANG" dalam hidup kita, jadi janganlah "Berputus Asa".