Kamis, 25 Agustus 2011

REMAJA MENANTANG BADAI


Oleh : Eko Wahyudi
   
    Remaja semakin sering diperbincangkan di media, mulai dari perkelahian pelajar, seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi, pecandu narkotika, kebrutalan geng motor, mengakses situs porno, pornoaksi di dunia maya dan lain sebagainya. Penyimpangan-penyimpangan tersebut sebagian besar dilakukan oleh remaja. Ada apa dengan remaja saat ini?. Apakah mereka ingin berinovasi, mencari “jati diri”, yang sebenarnya istilah jati diri itupun tidak mereka pahami. Atau hanya sekedar “iseng” belaka, yang akhirnya merugikan diri-sendiri, keluarga dan orang lain. 

     Berdasarkan informasi dari situs metrotvnews.com tanggal 29 Oktober 2010, Survei Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, di kota besar, Januari hingga Juni 2008 mencatat sebagian besar atau 97 persen remaja setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) pernah menonton film porno. Bahkan berdasarkan hasil survei tersebut sebanyak 93,7 persen remaja SMP dan SMA pernah ciuman, meraba alat kelamin serta oral seks. Ditambah dengan 62,7 persen remaja putri tidak perawan lagi dan 21,2 persen remaja mengaku pernah aborsi. Selain itu, dari hasil survei kesehatan reproduksi remaja 2002-2003, tercatat remaja mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada usia 14 hingga 19 tahun.
Informasi selanjutnya, disampaikan di situs beritajakarta.com tanggal 12 Pebruari 2009, pelajar SD, SMP, dan SMA DKI Jakarta, yang terlibat tawuran mencapai 0,08 persen atau sekitar 1.318 siswa dari total 1.647.835 siswa di DKI Jakarta. Bahkan, 26 siswa diantaranya meninggal dunia dan 137 sekolah rawan tawuran.

     Saya rasa tidak perlu membahas data tersebut secara terperinci, namun yang perlu untuk diperhatikan adalah mengapa remaja saat ini lebih bersifat destruktif atau merusak, baik merusak masa depannya sendiri, merusak harapan orang tua, bahkan merusak kehidupan orang lain di sekitarnya. Memang masa remaja bisa disebut dengan masa dalam arus topan dan badai. Tapi, apakah mereka harus menantang badai sendirian. Dalam kondisi yang bingung membentuk karakter mereka secara pribadi, tanpa pengawasan dan arahan dan akhirnya mereka akan terbentuk oleh lingkungan dan pergaulan yang tidak seharusnya diikuti. Perhatian dan kasih sayang dalam keluarga adalah salah satu kunci untuk dapat mengarahkan remaja menjadi generasi yang selamat, berakhlak dan beretika dalam pergaulannya.

Selasa, 23 Agustus 2011

PENYIMPANGAN SEKS PADA REMAJA

Oleh : Efri Widianti, S.Kep., Ners
Univ. Padjajaran, Fak. Ilmu Keperawatan
2007

        Kita  telah  ketahui  bahwa  kebebasan  bergaul  remaja  sangatlah  diperlukan agar mereka tidak "kuper" dan "jomblo" yang biasanya jadi anak mama. "Banyak teman maka banyak pengetahuan". Namun tidak semua teman kita sejalan dengan apa  yang  kita  inginkan.  Mungkin  mereka  suka  hura-hura,  suka  dengan  yang berbau  pornografi,  dan  tentu  saja  ada  yang  bersikap  terpuji.  benar  agar  kita  tidak  terjerumus  ke  pergaulan  bebas  yang  menyesatkan. 
         Masa  remaja merupakan  suatu masa  yang menjadi  bagian  dari  kehidupan manusia yang di dalamnya penuh dengan dinamika. Dinamika kehidupan remaja ini akan sangat berpengaruh  terhadap pembentukan diri  remaja  itu sendiri. Masa remaja  dapat  dicirikan  dengan  banyaknya  rasa  ingin  tahu  pada  diri  seseorang dalam  berbagai  hal,  tidak  terkecuali  bidang  seks. 
         Seiring  dengan  bertambahnya  usia  seseorang,  organ  reproduksipun mengalami  perkembangan  dan  pada  akhirnya  akan  mengalami  kematangan. Kematangan  organ  reproduksi  dan  perkembangan  psikologis  remaja  yang mulai menyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik maupun non elektronik  akan  sangat  berpengaruh  terhadap  perilaku  seksual  individu  remaja tersebut.  
         Salah  satu  masalah  yang  sering  timbul  pada  remaja  terkait  dengan  masa awal kematangan organ  reproduksi pada  remaja adalah masalah kehamilan yang terjadi pada remaja diluar pernikahan. Apalagi apabila Kehamilan tersebut terjadi pada  usia  sekolah.  Siswi  yang  mengalami  kehamilan  biasanya  mendapatkan respon  dari  dua  pihak.  Pertama  yaitu  dari  pihak  sekolah,  biasanya  jika  terjadi kehamilan  pada  siswi,  maka  yang  sampai  saat  ini  terjadi  adalah  sekolah meresponya  dengan  sangat  buruk  dan  berujung  dengan  dikeluarkannya  siswi tersebut dari sekolah. Kedua yaitu dari lingkungan di mana siswi tersebut tinggal, lingkungan  akan  cenderung  mencemooh  dan  mengucilkan  siswi  tersebut.  Hal
tersebut terjadi jika karena masih kuatnya nilai norma kehidupan masyarakat kita. Kehamilan remaja adalah  isu yang saat  ini mendapat perhatian pemerintah.  Karena  masalah  kehamilan  remaja  tidak  hanya  membebani  remaja  sebagai individu  dan  bayi mereka  namun  juga mempengaruhi  secara  luas  pada  seluruh strata di masyarakat dan  juga membebani sumber-sumber kesejahteraan. Namun, alasan-alasannya  tidak  sepenuhnya  dimengerti.    
Beberapa  sebab  kehamilan termasuk  rendahnya pengetahuan  tentang keluarga berencana, perbedaan budaya yang  menempatkan  harga  diri  remaja  di  lingkungannya,  perasaan  remaja  akan ketidakamanan atau impulsifisitas, ketergantungan kebutuhan, dan keinginan yang sangat untuk mendapatkan kebebasan. 
       Selain  masalah  kehamilan  pada  remaja  masalah  yang  juga  sangat menggelisahkan  berbagai  kalangan  dan  juga  banyak  terjadi  pada  masa  remaja adalah banyaknya remaja yang mengidap HIV/AIDS
Data dan Fakta HIV/AIDS
Dilihat  dari  jumlah  pengidap  dan  peningkatan  jumlahnya  dari waktu  ke waktu,  maka  dewasa  ini  HIV  (Human  Immunodeficiency  Virus)  dan  AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) sudah dapat dianggap sebagai ancaman hidup  bagi  masyarakat  Indonesia.  Berdasarkan  laporan  Departemen  Kesehatan sampai  Juni 2003  jumlah pengidap HIV/AIDS  atau ODHA  (Orang Yang Hidup Dengan HIV/AIDS)  di  Indonesia  adalah  3.647  orang  terdiri  dari  pengidap HIV 2.559 dan penderita AIDS 1.088 orang. Dari jumlah tersebut, kelompok usia 15 -19 berjumlah 151 orang (4,14%); 19-24 berjumlah 930 orang (25,50%). Ini berarti bahwa  jumlah  terbanyak  penderita  HIV/AIDS  adalah  remaja  dan  orang  muda. Dari data  tersebut, dilaporkan yang sudah meninggal karena AIDS secara umum adalah  394  orang  (Subdit  PMS  &  AIDS,  Ditjen  PPM  &  PL,  Depkes  R.I.).
Diperkirakan setiap hari ada 8.219 orang di dunia yang meninggal karena AIDS, sedangkan  di  kawasan  Asia  Pacific  mencapai  angka1.192 orang. 
            Data  dan  fakta  tersebut  belum mencerminkan  keadaan  yang  sebenarnya, melainkan  hanya  merupakan  "puncak  gunung  es",  artinya,  yang  kelihatan  atau dilaporkan  hanya  sedikit,  sementara  yang  tidak  kelihatan  atau  tidak  dilaporkan jumlahnya berkali-kali  lipat. Para ahli memperkirakan bahwa  jumlah  sebenarnya bisa 100 kali lipat.