Oleh : Eko Wahyudi
Remaja semakin sering diperbincangkan di media, mulai dari perkelahian pelajar, seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi, pecandu narkotika, kebrutalan geng motor, mengakses situs porno, pornoaksi di dunia maya dan lain sebagainya. Penyimpangan-penyimpangan tersebut sebagian besar dilakukan oleh remaja. Ada apa dengan remaja saat ini?. Apakah mereka ingin berinovasi, mencari “jati diri”, yang sebenarnya istilah jati diri itupun tidak mereka pahami. Atau hanya sekedar “iseng” belaka, yang akhirnya merugikan diri-sendiri, keluarga dan orang lain.
Berdasarkan informasi dari situs metrotvnews.com tanggal 29 Oktober 2010, Survei Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, di kota besar, Januari hingga Juni 2008 mencatat sebagian besar atau 97 persen remaja setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) pernah menonton film porno. Bahkan berdasarkan hasil survei tersebut sebanyak 93,7 persen remaja SMP dan SMA pernah ciuman, meraba alat kelamin serta oral seks. Ditambah dengan 62,7 persen remaja putri tidak perawan lagi dan 21,2 persen remaja mengaku pernah aborsi. Selain itu, dari hasil survei kesehatan reproduksi remaja 2002-2003, tercatat remaja mempunyai teman yang pernah berhubungan seksual pada usia 14 hingga 19 tahun.
Informasi selanjutnya, disampaikan di situs beritajakarta.com tanggal 12 Pebruari 2009, pelajar SD, SMP, dan SMA DKI Jakarta, yang terlibat tawuran mencapai 0,08 persen atau sekitar 1.318 siswa dari total 1.647.835 siswa di DKI Jakarta. Bahkan, 26 siswa diantaranya meninggal dunia dan 137 sekolah rawan tawuran.
Saya rasa tidak perlu membahas data tersebut secara terperinci, namun yang perlu untuk diperhatikan adalah mengapa remaja saat ini lebih bersifat destruktif atau merusak, baik merusak masa depannya sendiri, merusak harapan orang tua, bahkan merusak kehidupan orang lain di sekitarnya. Memang masa remaja bisa disebut dengan masa dalam arus topan dan badai. Tapi, apakah mereka harus menantang badai sendirian. Dalam kondisi yang bingung membentuk karakter mereka secara pribadi, tanpa pengawasan dan arahan dan akhirnya mereka akan terbentuk oleh lingkungan dan pergaulan yang tidak seharusnya diikuti. Perhatian dan kasih sayang dalam keluarga adalah salah satu kunci untuk dapat mengarahkan remaja menjadi generasi yang selamat, berakhlak dan beretika dalam pergaulannya.