Sabtu, 01 Oktober 2011

10 Penyebab Kenakalan Remaja


Benarkah  remaja  bermasalah  itu  sudah  biasa  ?  Ada  10  penyebab munculnya  kenakalan  remaja.  Tapi  dengan komunikasi dua arah dan pemantauan dari orangtua, kenakalan remaja bisa dihindari. Masa remaja sering dikenal dengan istilah masa pemberontakan. Pada masa-masa  ini, seorang anak yang baru mengalami pubertas seringkali menampilkan beragam gejolak emosi, menarik diri dari keluarga, serta mengalami banyak masalah, baik di rumah, sekolah, atau di lingkungan pertemanannya.
Faktor pemicunya, menurut sosiolog Kartono, antara  lain adalah gagalnya remaja melewati masa transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang kurang baik. Akibatnya, para  orangtua mengeluhkan  perilaku  anak-anaknya  yang  tidak  dapat  diatur, bahkan  terkadang bertindak melawan mereka. Konflik keluarga, depresi, dan munculnya tindakan berisiko sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain di sepanjang rentang kehidupan.

Batasan dan Jenis Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan tindakan melanggar peraturan atau hukum yang dilakukan oleh anak di bawah usia 18  tahun.  Perilaku  yang  ditampilkan  dapat  bermacam-macam, mulai  dari  kenakalan  ringan  seperti  membolos sekolah, melanggar peraturan-peraturan sekolah, melanggar jam malam yang orangtua berikan, hingga kenakalan berat seperti kriminalisme, perkelahian antar geng, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya.
Dalam batasan hukum, menurut Philip Rice dan Gale Dolgin, penulis buku The Adolescence, terdapat dua kategori pelanggaran yang dilakukan remaja, yaitu:
1.       Pelanggaran  indeks, yaitu munculnya tindak kriminal yang dilakukan oleh anak remaja. Perilaku yang termasuk di antaranya adalah pencurian, penyerangan, perkosaan, dan pembunuhan.
2.       Pelanggaran status, di antaranya adalah kabur dari  rumah, membolos sekolah, minum minuman beralkohol di bawah umur, perilaku seksual, dan perilaku yang tidak mengikuti peraturan sekolah atau orang tua.

Keluarga yang Memicu ?
Menurut  Karol  Kumpfer  dan  Rose  Alvarado,  profesor  dan  asisten  profesor  dari  University  of  Utah,  dalam penelitiannya, menyebutkan bahwa kenakalan dan kekerasan yang dilakukan oleh anak dan  remaja berakar dari masalah-masalah sosial yang saling berkaitan.
Di  antaranya  adalah  kekerasan  pada  anak  dan  pengabaian  yang  dilakukan  oleh  orangtua, munculnya  perilaku seksual sejak usia dini, kekerasan rumah  tangga, keikutsertaan anak dalam geng yang menyimpang, serta tingkat pendidikan anak yang rendah.
Ketidakmampuan orangtua dalam menghentikan dan melarang perilaku menyimpang  yang dilakukan oleh anak remaja akan membuat perilaku kenakalan terus bertahan. Faktor-faktor penyebab munculnya kenakalan remaja, menurut Kumpfer dan Alvarado, Minggu (23/1/2011)
1.       Kurangnya sosialisasi dari orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial.
2.      Contoh perilaku yang ditampilkan orangtua (modeling) di rumah terhadap perilaku dan nilai-nilai  anti-sosial.
3.       Kurangnya  pengawasan  terhadap  anak  (baik  aktivitas,  pertemanan  di  sekolah  ataupun  di  luar  sekolah,  dan lainnya).
4.       Kurangnya disiplin yang diterapkan orangtua pada anak.
5.       Rendahnya kualitas hubungan orangtua-anak.
6.       Tingginya konflik dan perilaku agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.
7.       Kemiskinan dan kekerasan dalam lingkungan keluarga.
8.       Anak tinggal jauh dari orangtua dan tidak ada pengawasan dari figur otoritas lain.
9.       Perbedaan budaya tempat tinggal anak, misalnya pindah ke kota lain atau lingkungan baru.
10.   Adanya saudara kandung atau tiri yang menggunakan obat-obat terlarang atau melakukan kenakalan  remaja.

Faktor  lingkungan atau teman sebaya yang kurang baik juga ikut memicu timbulnya perilaku yang tidak baik pada diri  remaja. Sekolah yang kurang menerapkan aturan yang  ketat  juga membuat  remaja menjadi semakin  rentan terkena efek pergaulan yang tidak baik.
"Guru  yang  kurang  sensitif"  terhadap  hal  ini  juga  bisa  membuat  remaja  menjadi  semakin  sulit  diperbaiki perilakunya. Demikian  juga dengan guru yang terlalu keras dalam menghadapi remaja yang bermasalah. Bisa  jadi, bukannya ikut meredam kenakalan mereka, malah membuat kenakalan mereka semakin menjadi," ujar Prof. Arif Rachman, pakar pendidikan dari UNJ.
Sementara M  Faisal Magrie,  konsultan  psikologi  remaja  dari  Asosiasi  Berbagi, menyatakan  beberapa  hal  yang dapat dilakukan orangtua untuk mencegah munculnya perilaku kenakalan pada anak remaja.   Menurut Faisal, mengasuh anak yang memasuki usia remaja dapat diandaikan seperti bermain layangan. "Apabila orangtua menarik  talinya  terlalu dekat,  layangan  itu  tidak akan bisa  terbang. Namun bila orangtua membiarkan talinya terlalu jauh, layangan tersebut akan putus karena angin yang kencang, atau hal lain seperti menyangkut di pohon," kata Faisal.
Begitu  juga dengan anak  remaja,  jika orangtua  terlalu mengekang anak,  yang  terjadi adalah anak  tidak mampu berkembang secara mandiri dan mereka akan berusaha untuk melepaskan dirinya dari kekangan orangtua. Ketika hal ini terjadi, lingkungan sosial, terutama teman sebaya, akan menjadi pelarian utama si anak. Apabila  ternyata  lingkungan  sosial  tempat  anak  biasa  berkumpul  memiliki  kecenderungan  untuk  melakukan kenakalan  remaja,  anak  juga  berpotensi  besar  untuk  melakukan  hal  yang  sama  dengan  apa  yang  dilakukan kelompoknya. Hal yang  sama  juga dapat  terjadi apabila orangtua  terlalu membebaskan anak. Perbedaannya adalah, anak yang dibebaskan  tidak merasakan  tekanan  sebesar apa  yang  dirasakan  oleh  anak  yang  dikekang,  sehingga dorongan untuk memberontak cenderung lebih kecil dibandingkan anak yang dikekang.

Berikan batasan yang jelas.
Orangtua disarankan untuk memberikan batasan yang  jelas mengenai perilaku apa yang benar-benar tidak boleh dilakukan oleh anak, misalnya membolos, menggunakan narkoba, dan lain sebagainya. Berdiskusilah untuk tawar menawar. Lakukan  tawar  menawar  melalui  diskusi  mengenai  perilaku  lainnya  yang  dianggap  berpotensi  membuat  anak menjadi nakal, seperti pulang malam, menginap, atau bahkan “pacaran”. Bimbinglah anak menentukan standar moralnya sendiri. Proses  tawar-menawar  akan merangsang  anak  untuk menentukan  standar moralnya  sendiri. Di  sisi  lain  hal  ini dapat  membuat  anak  lebih menghormati  orangtuanya  karena  telah  diberikan  kesempatan  untuk menentukan pilihannya sendiri.

Aktif berkomunikasi dengan guru di sekolah.
Pengawasan  dan  pemantauan  orangtua  di  rumah  bisa  dilengkapi  dengan  pengawasan  dari  guru  di  sekolah. Pemantauan  terpadu  ini akan memberikan banyak masukan  yang menyeluruh bagi orangtua mengenai perilaku anaknya di luar rumah.

Tak Ada Kata Terlambat
Menurut Faisal, tidak ada kata terlambat dalam menangani anak remaja yang terlihat 'melenceng'. Karena di usia ini teman adalah segalanya bagi anak, ia dapat dengan mudah terpengaruh oleh teman-teman sebayanya. Untuk mengatasi  hal  ini,  tindakan  yang  dapat  dilakukan  oleh  orangtua  adalah  dengan membuat  kesan  bahwa mereka  bisa  berdamai  dengan  pilihan  anaknya.  Dengan  begini,  orangtua  tetap  bisa  mengawasi  aktivitas  dan pergaulan anaknya dengan pasif.
Namun,  ada  hal  yang  perlu  diperhatikan  oleh  orangtua  berkaitan  dengan  hal  tersebut.  Ketika orangtua  terlalu 'masuk' ke dalam kehidupan anak, pasti anak akan merasa  terganggu privasinya.  Ia akan merasa  risih dan pada akhirnya justru bersikap tertutup kepada orangtuanya. Untuk itu, orangtua harus mengusahakan agar tetap terlibat secara pasif, namun jangan sampai terkesan terlalu ingin ikut campur. (InspiredKids - detikHealth)