Selasa, 27 Maret 2012

REMAJA BER”INOVASI” DALAM KEMESUMAN


Senyum dan tawa remaja saat di sekolah, ceria bersenda gurau, suka dan duka, di dalamnya menyimpan berjuta cerita. Ada cerita “cinta”, persahabatan, persaingan, perjuangan mencapai prestasi, ada juga yang hanya mengisi waktu-waktu kosong, katanya daripada di rumah nganggur, tak ada kerjaan. Ketimbang diomelin orang tua, mending masuk sekolah, lumayan dapat uang jajan. Namun di antara mereka ada manusia-manusia yang telah melampaui batas kewajaran dalam bergaul. Ada remaja atau siswa yang telah melanggar norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, dan hal itu mereka sembunyikan dari guru, orang tua dan masyarakat sekitar. Oknum-oknum remaja ini melakukan zina yang dianggap sebagai arena eksplorasi dan inovasi untuk memuaskan keingintahuan yang berkecamuk dalam otaknya.
Zina yang mereka lakukan terungkap dalam hasil survey oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak di 12 propinsi pada tahun 2007, yang menyebutkan bahwa sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks. Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan, 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi. Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah melakukan aborsi, 1 juta adalah remaja perempuan. Dan sebanyak 97% pelajar SMP dan SMA mengaku suka menonton film porno.

Ada Apa dengan Remaja ?
Kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan pembinaan akhlak terpuji, akan membawa remaja semakin terpuruk pada kelompok-kelompok generasi keblinger yang selalu mengekplorasi dan mengeksploitasi kepuasan nafsu birahinya, baik dengan teman, pasangan ataupun secara sendiri. Dukungan teknologi canggih mempermudah remaja mendapatkan fasilitas berupa situs internet, majalah, gambar, dan video pornografi yang akan memberikan informasi sangat lengkap, sehingga remaja tertarik untuk meniru dan mempraktekkannya. Mulai dari hanya sekedar narsis tanpa busana di depan kamera, hingga melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri yang saat ini lebih dikenal dengan ML (Making Love). Lebih gilanya lagi, adegan-adegan tersebut dengan sengaja disebarkan melalui media gambar atau video antar teman hingga diunggah di dunia maya.
Remaja adalah peniru ulung dan paling mudah untuk terpengaruh dengan informasi yang dianggapnya menarik untuk dilihat dan dipelajari. Sekali mereka mencoba, maka dapat dipastikan ketagihan akan merasuki jiwa hingga tergila-gila untuk selalu melakukannya. Resiko yang akan dihadapi, seperti hamil di luar nikah, penyakit menular seksual, rasa malu atau terkucil di masyarakat tidak diperhitungkannya. Prinsipnya yang penting suka sama suka, dilakukan saja, urusan orang lain tak suka, urusan mereka.
Ada juga yang melakukan zina tersebut, akhirnya merasa berdosa, gundah, tekanan bathin bahkan ada pula yang bunuh diri mengakhiri hidupnya demi menutupi rasa malu yang tak kuasa untuk ditanggungnya. Sehingga banyak yang dikorbankan, nyawa melayang, orang tua malu dan kehilangan.

Salah Siapa ?
Semua pihak memiliki peran dan tanggungjawab untuk membina remaja, agar dapat menjalani hidup mereka dengan sebaik-baiknya dan menjadi penerus bangsa yang kuat dan bermartabat. Mulai dari pemerintah seharusnya semakin tegas untuk memblokir situs pornografi, atau menindak tegas layanan umum atau media massa yang menampilkan erotisme. Yang susah saat ini, rujukan erotisme itu sendiri masih banyak perdebatan. Ada yang menyebut goyangan di atas panggung itu adalah eksotisme atau keindahan seni. Tapi juga ada yang mencela goyangan erotisme yang seharusnya hanya dilakukan di “kamar tidur” tidak boleh ditampilkan di muka umum. Yang dipermasalahkan ialah tolak ukur eksotisme dan erotisme yang sebagian besar masyarakat hanya merujuk pada kepantasan yang dinilai masuk akal, bukan pada garis-garis atau aturan dalam kehidupan beragama. Akhinya yang menjadi korban ialah generasi penerus bangsa ini. Karena kepentingan materi untuk pribadi semata, oknum-oknum yang mengatasnamakan eksotisme tetap bersikukuh menjalankan aktivitas erotismenya.
Selanjutnya yang bertanggungjawab terhadap perkembangan remaja ialah masyarakat dan keluarga, yang wajib memberikan bimbingan dan pendampingan dalam kehidupan sehari-hari, memberikan contoh dan keteladanan. Orang tua tidak boleh membiarkan anak-anak bergaul secara bebas tanpa aturan dan pengawasan, karena bergaul tanpa aturan akan membuat remaja merasa cuek dan "semau gue".
Dan yang paling bertanggungjawab ialah remaja itu sendiri, karena mereka lah yang menjadi titik pusat perhatian, bagaimanapun hebatnya usaha yang dilakukan untuk membimbingnya, remaja adalah penentu sikap dan memilih jalan hidup mereka. Tak bijak bila remaja selalu menyalahkan orang lain, orang tua, atau lingkungan sekitar mereka. Dan sangat tidak benar, apabila remaja memperturutkan hawa nafsunya untuk alasan mencari jati diri.
Remaja seharusnya belajar dari kisah hidup orang lain yang sukses ataupun orang yang gagal dalam hidupnya. Belajar dari orang sukses tentang perjuangan dan kegigihan mereka sehingga mencapai cita-cita dan harapan yang dibangun dari dasar atau awal. Begitupun juga belajar dari orang yang gagal, bukan belajar untuk gagal, tetapi berusaha untuk tidak mengulangi kegagalan yang pernah dilakukan orang lain. Banyak aktifitas positif yang akan membawa suasana dinamis dalam diri remaja, seperti seni, olahraga, berorganisasi, atau bekerja paruh waktu mengisi kekosongan di luar jam sekolah.
Dengan usaha untuk mengisi kekosongan waktu dengan kesibukan-kesibukan yang positif, maka remaja akan terbentuk secara alami menjadi generasi yang penuh inovasi, bukan berinovasi dalam kemesuman dan zina.

"Siapa lagi yang akan meneruskan kelanjutan bangsa ini, kalau generasi penerusnya sudah keblinger dan terbuai dengan birahi yang liar tak terkendali"

Sabtu, 03 Maret 2012

MENYESAL KARENA BERPUTUS ASA


Ada pengalaman menarik saat dulu di luar Jawa, tepatnya di Kota Tanjungpandan Pulau Belitung tahun 2004 sampai dengan 2007. Tentang keluh kesah seorang anak gadis asli Belitung yang saat itu masih belajar di tingkat menengah atas, sebut saja Ana. Hubungan kami sangat dekat, boleh dibilang seperti Adik dan Kakak. Hampir tiap hari ada saja yang diceritakan oleh Ana saat ba’da sholat maghrib, kadang juga di malam hari saat ia berlatih Pencak Silat di halaman asrama tempat aku tinggal. Dia tinggal bersama ayah dan ibu asuh (bukan orang tua kandungnya), walaupun sebenarnya ibu kandung gadis itu masih hidup. Alasan dia tinggal bersama orang tua asuhnya salah satunya karena kebutuhan biaya untuk melanjutkan sekolah. Saya rasa orang tua asuhnya adalah orang yang sangat baik, bisa dibilang seperti itu karena mereka adalah pendatang dari Palembang. Secara logis, kenapa repot-repot membiayai anak orang lain, padahal anak kandungnya sendiri ada tiga orang, kalau dihitung pasti jumlah pengeluarannya sangat besar setiap bulannya.
Dalam kondisi orang tua asuh yang sangat baik seperti itu, masih ada cela dan kekurangan dari sudut pandang si Ana. Dia sering bilang, bapak angkatku orangnya galak, ibu cerewet, aku hidup di situ seperti pembantu, dan lain sebagainya. Sepertinya tidak ada nilai kebaikan yang diberikan dalam keluarga itu. Suatu hari pernah ngobrol bahwa dia sudah tidak tahan dengan kondisi itu, tapi tak kusalahkan dulu karena aku yakin pasti dia akan tersinggung. Kubiarkan dia bicara sepuasnya, sambil diiringi isak tangis. Terakhir ucapannya, “Aku ingin pulang ke ibu kandungku..!”. dengan ucapan ini kucoba menanyakan alas an sebenarnya. Singkat obrolan, aku ambil kesimpulan bahwa Si Ana ingin hidup bebas seperti teman-teman lainnya. Dia ingin main saat dia suka, belanja kaos, celana, cemilan, jalan-jalan ke pantai dan lain sebagainya.
Benarlah, keesokan harinya saya mendengar si Ana pulang ke orang tuanya tanpa berpamitan. Mendengar hal itu, ibu kandung si Ana marah besar padanya, dengan memaksa dia kembalikan anaknya ke orang tua asuhnya. Di sinilah kebaikan dan kebesaran hati lagi-lagi ditunjukkan dengan menerima kembali si Ana di rumah mereka. Dan kehidupan normal kembali seperti bisaanya dalam keluarga tersebut. Tetapi Ana melalui hari-harinya dengan senyum semu dari bibirnya, putus asa yang cukup mendalam. Ucapan dan nasekatku pun tidak dia hiraukan.
Bulan Juni 2007, saya kembali ke Malang dan tidak pernah mendengar kabarnya hingga akhir Pebruari 2012, kurang lebih 5 tahun komunikasi terputus begitu saja. Gara-gara jejaring sosial facebook, kami dipertemukan lagi dalam suasana yang berbeda. Dalam tampilan akun facebook milik Ana, saya melihat senyum yang betul-betul manis penuh keikhlasan sambil menggendong anaknya dan memiliki suami yang bertanggungjawab. Subhanalloh, Si Ana yang dulunya berkulit sawo kematangan, sekarang sudah kuning langsat. Kesan yang muncul bahwa hidupnya saat ini terawat dan sejahtera. Aku rasa dia menyesal pernah berpikiran buruk terhadap orang tua asuhnya dan berputus asa dalam hidupnya.
Ada beberapa hal penting yang perlu dicermati muncul dari diri remaja dalam bentuk sikap, akibat pola pikir yang berkembang tanpa dilandasi dengan rasa tanggungjawab, mawas diri, sensitifitas terhadap lingkungan dan kepedulian pada orang lain. Mereka cenderung berfikir bagaimana saya hidup senang layaknya teman-teman yang lain.
Misalnya remaja mau memperhatikan pengalaman hidup orang yang sudah berumur, mau merenungkan cerita perjalanan hidup orang lain, sangat mungkin hal tersebut bisa mendewasakan dan membentuk pola pikir remaja yang bertanggungjawab. Seharusnya, remaja tidak mengandalkan emosi untuk menyikapi hidup yang katanya semakin "keras" ini. Masih ada "CINTA dan KASIH SAYANG" dalam hidup kita, jadi janganlah "Berputus Asa".