Senyum dan tawa remaja saat di sekolah, ceria
bersenda gurau, suka dan duka, di dalamnya menyimpan berjuta cerita. Ada cerita
“cinta”, persahabatan, persaingan, perjuangan mencapai prestasi, ada juga yang
hanya mengisi waktu-waktu kosong, katanya daripada di rumah nganggur, tak ada kerjaan.
Ketimbang diomelin orang tua, mending masuk sekolah, lumayan dapat uang jajan. Namun
di antara mereka ada manusia-manusia yang telah melampaui batas kewajaran dalam
bergaul. Ada remaja atau siswa yang telah melanggar norma dan nilai-nilai yang
berlaku di masyarakat, dan hal itu mereka sembunyikan dari guru, orang tua dan
masyarakat sekitar. Oknum-oknum remaja ini melakukan zina yang dianggap sebagai
arena eksplorasi dan inovasi untuk memuaskan keingintahuan yang berkecamuk
dalam otaknya.
Zina yang mereka lakukan terungkap dalam hasil survey oleh
Komisi Nasional Perlindungan Anak di 12 propinsi pada tahun 2007, yang
menyebutkan bahwa sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, petting, dan
oral seks. Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan, 21,2% remaja
SMA mengaku pernah melakukan aborsi. Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah
melakukan aborsi, 1 juta adalah remaja perempuan. Dan sebanyak 97% pelajar SMP
dan SMA mengaku suka menonton film porno.
Ada Apa dengan Remaja ?
Kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan pembinaan akhlak
terpuji, akan membawa remaja semakin terpuruk pada kelompok-kelompok generasi keblinger
yang selalu mengekplorasi dan mengeksploitasi kepuasan nafsu birahinya, baik
dengan teman, pasangan ataupun secara sendiri. Dukungan teknologi canggih
mempermudah remaja mendapatkan fasilitas berupa situs internet, majalah,
gambar, dan video pornografi yang akan memberikan informasi sangat lengkap,
sehingga remaja tertarik untuk meniru dan mempraktekkannya. Mulai dari hanya
sekedar narsis tanpa busana di depan kamera, hingga melakukan hubungan layaknya
pasangan suami istri yang saat ini lebih dikenal dengan ML (Making Love). Lebih
gilanya lagi, adegan-adegan tersebut dengan sengaja disebarkan melalui media gambar atau video antar teman hingga diunggah di dunia maya.
Remaja adalah peniru ulung dan paling mudah untuk terpengaruh dengan
informasi yang dianggapnya menarik untuk dilihat dan dipelajari. Sekali mereka
mencoba, maka dapat dipastikan ketagihan akan merasuki jiwa hingga tergila-gila
untuk selalu melakukannya. Resiko yang akan dihadapi, seperti hamil di luar
nikah, penyakit menular seksual, rasa malu atau terkucil di masyarakat tidak
diperhitungkannya. Prinsipnya yang penting suka sama suka, dilakukan saja,
urusan orang lain tak suka, urusan mereka.
Ada juga yang melakukan zina tersebut, akhirnya merasa berdosa, gundah,
tekanan bathin bahkan ada pula yang bunuh diri mengakhiri hidupnya demi
menutupi rasa malu yang tak kuasa untuk ditanggungnya. Sehingga banyak yang
dikorbankan, nyawa melayang, orang tua malu dan kehilangan.
Salah
Siapa ?
Semua pihak memiliki peran dan tanggungjawab untuk membina remaja, agar
dapat menjalani hidup mereka dengan sebaik-baiknya dan menjadi penerus bangsa
yang kuat dan bermartabat. Mulai dari pemerintah seharusnya semakin tegas untuk
memblokir situs pornografi, atau menindak tegas layanan umum atau media massa yang
menampilkan erotisme. Yang susah saat ini, rujukan erotisme itu sendiri masih
banyak perdebatan. Ada yang menyebut goyangan di atas panggung itu adalah
eksotisme atau keindahan seni. Tapi juga ada yang mencela goyangan erotisme yang
seharusnya hanya dilakukan di “kamar tidur” tidak boleh ditampilkan di muka
umum. Yang dipermasalahkan ialah tolak ukur eksotisme dan erotisme yang
sebagian besar masyarakat hanya merujuk pada kepantasan yang dinilai masuk
akal, bukan pada garis-garis atau aturan dalam kehidupan beragama. Akhinya yang
menjadi korban ialah generasi penerus bangsa ini. Karena kepentingan materi
untuk pribadi semata, oknum-oknum yang mengatasnamakan eksotisme tetap
bersikukuh menjalankan aktivitas erotismenya.
Selanjutnya yang bertanggungjawab terhadap perkembangan remaja ialah masyarakat
dan keluarga, yang wajib memberikan bimbingan dan pendampingan dalam kehidupan
sehari-hari, memberikan contoh dan keteladanan. Orang tua tidak boleh membiarkan anak-anak bergaul secara bebas tanpa aturan dan pengawasan, karena bergaul tanpa aturan akan membuat remaja merasa cuek dan "semau gue".
Dan yang paling bertanggungjawab ialah remaja itu sendiri, karena
mereka lah yang menjadi titik pusat perhatian, bagaimanapun hebatnya usaha yang
dilakukan untuk membimbingnya, remaja adalah penentu sikap dan memilih jalan
hidup mereka. Tak bijak bila remaja selalu menyalahkan orang lain, orang tua, atau lingkungan sekitar mereka. Dan sangat tidak benar, apabila remaja memperturutkan hawa nafsunya untuk alasan mencari jati diri.
Remaja seharusnya belajar dari kisah hidup orang lain yang sukses
ataupun orang yang gagal dalam hidupnya. Belajar dari orang sukses tentang
perjuangan dan kegigihan mereka sehingga mencapai cita-cita dan harapan yang
dibangun dari dasar atau awal. Begitupun juga belajar dari orang yang gagal,
bukan belajar untuk gagal, tetapi berusaha untuk tidak mengulangi kegagalan
yang pernah dilakukan orang lain. Banyak aktifitas positif yang akan membawa
suasana dinamis dalam diri remaja, seperti seni, olahraga, berorganisasi, atau
bekerja paruh waktu mengisi kekosongan di luar jam sekolah.
Dengan usaha
untuk mengisi kekosongan waktu dengan kesibukan-kesibukan yang positif, maka
remaja akan terbentuk secara alami menjadi generasi yang penuh inovasi, bukan
berinovasi dalam kemesuman dan zina.
"Siapa lagi yang akan meneruskan kelanjutan bangsa ini, kalau generasi penerusnya sudah keblinger dan terbuai dengan birahi yang liar tak terkendali"
Ada
pengalaman menarik saat dulu di luar Jawa, tepatnya di Kota Tanjungpandan Pulau
Belitung tahun 2004 sampai dengan 2007. Tentang keluh kesah seorang anak gadis asli
Belitung yang saat itu masih belajar di tingkat menengah atas, sebut saja Ana. Hubungan
kami sangat dekat, boleh dibilang seperti Adik dan Kakak. Hampir tiap hari ada
saja yang diceritakan oleh Ana saat ba’da sholat maghrib, kadang juga di malam
hari saat ia berlatih Pencak Silat di halaman asrama tempat aku tinggal. Dia
tinggal bersama ayah dan ibu asuh (bukan orang tua kandungnya), walaupun
sebenarnya ibu kandung gadis itu masih hidup. Alasan dia tinggal bersama orang
tua asuhnya salah satunya karena kebutuhan biaya untuk melanjutkan sekolah. Saya
rasa orang tua asuhnya adalah orang yang sangat baik, bisa dibilang seperti itu
karena mereka adalah pendatang dari Palembang. Secara logis, kenapa repot-repot
membiayai anak orang lain, padahal anak kandungnya sendiri ada tiga orang,
kalau dihitung pasti jumlah pengeluarannya sangat besar setiap bulannya.
Dalam kondisi
orang tua asuh yang sangat baik seperti itu, masih ada cela dan kekurangan dari
sudut pandang si Ana. Dia sering bilang, bapak angkatku orangnya galak, ibu
cerewet, aku hidup di situ seperti pembantu, dan lain sebagainya. Sepertinya tidak
ada nilai kebaikan yang diberikan dalam keluarga itu. Suatu hari pernah ngobrol
bahwa dia sudah tidak tahan dengan kondisi itu, tapi tak kusalahkan dulu karena
aku yakin pasti dia akan tersinggung. Kubiarkan dia bicara sepuasnya, sambil
diiringi isak tangis. Terakhir ucapannya, “Aku ingin pulang ke ibu kandungku..!”.
dengan ucapan ini kucoba menanyakan alas an sebenarnya. Singkat obrolan, aku
ambil kesimpulan bahwa Si Ana ingin hidup bebas seperti teman-teman lainnya.
Dia ingin main saat dia suka, belanja kaos, celana, cemilan, jalan-jalan ke
pantai dan lain sebagainya.
Benarlah,
keesokan harinya saya mendengar si Ana pulang ke orang tuanya tanpa berpamitan.
Mendengar hal itu, ibu kandung si Ana marah besar padanya, dengan memaksa dia
kembalikan anaknya ke orang tua asuhnya. Di sinilah kebaikan dan kebesaran hati
lagi-lagi ditunjukkan dengan menerima kembali si Ana di rumah mereka. Dan kehidupan
normal kembali seperti bisaanya dalam keluarga tersebut. Tetapi Ana melalui
hari-harinya dengan senyum semu dari bibirnya, putus asa yang cukup mendalam. Ucapan
dan nasekatku pun tidak dia hiraukan.
Bulan Juni 2007,
saya kembali ke Malang dan tidak pernah mendengar kabarnya hingga akhir
Pebruari 2012, kurang lebih 5 tahun komunikasi terputus begitu saja. Gara-gara jejaring
sosial facebook, kami dipertemukan lagi dalam suasana yang berbeda. Dalam tampilan
akun facebook milik Ana, saya melihat senyum yang betul-betul manis penuh keikhlasan
sambil menggendong anaknya dan memiliki suami yang bertanggungjawab.
Subhanalloh, Si Ana yang dulunya berkulit sawo kematangan, sekarang sudah
kuning langsat. Kesan yang muncul bahwa hidupnya saat ini terawat dan sejahtera.
Aku rasa dia menyesal pernah berpikiran buruk terhadap orang tua asuhnya dan
berputus asa dalam hidupnya.
Ada beberapa
hal penting yang perlu dicermati muncul dari diri remaja dalam bentuk sikap,
akibat pola pikir yang berkembang tanpa dilandasi dengan rasa tanggungjawab, mawas
diri, sensitifitas terhadap lingkungan dan kepedulian pada orang lain. Mereka cenderung
berfikir bagaimana saya hidup senang layaknya teman-teman yang lain.
Misalnya
remaja mau memperhatikan pengalaman hidup orang yang sudah berumur, mau merenungkan
cerita perjalanan hidup orang lain, sangat mungkin hal tersebut bisa mendewasakan
dan membentuk pola pikir remaja yang bertanggungjawab. Seharusnya, remaja tidak mengandalkan emosi untuk menyikapi hidup yang katanya semakin "keras" ini. Masih ada "CINTA dan KASIH SAYANG" dalam hidup kita, jadi janganlah "Berputus Asa".
Tempe adalah makanan
yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai
atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae,
Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan
fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe".
Kapang yang tumbuh
pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana
yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan ,kalsium
,vitamin B dan zat besi.
Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika
untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.
Secara umum, tempe
berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma khas. Berbeda dengan tahu , tempe terasa agak
masam.
Tempe banyak
dikonsumsi di Indonesia ,
tetapi sekarang telah mendunia.
Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging.
Akibatnya sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia .
Berbagai penelitian di sejumlah negara, seperti Jerman , Jepang , dan Amerika Serikat . Indonesia juga sekarang berusaha mengembangkan galur (strain)
unggul Rhizopus untuk
menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan
gizi tempe. Beberapa pihak mengkhawatirkan kegiatan ini dapat mengancam
keberadaan tempe sebagai bahan pangan milik umum karena galur-galur ragi tempe
unggul dapat didaftarkan hak patennya sehingga penggunaannya dilindungi
undang-undang (memerlukan lisensi dari pemegang hak paten).
Pembuatan
Terdapat berbagai
metode pembuatan tempe. Namun, teknik pembuatan tempe di Indonesia yang ditemukan
oleh chandra dwi dhanarto(1994) secara umum terdiri dari tahapan perebusan,
pengupasan, perendaman dan pengasaman, pencucian, inokulasi dengan ragi, pembungkusan, dan
fermentasi.
Pada tahap awal
pembuatan tempe, biji kedelai direbus. Tahap perebusan ini berfungsi sebagai
proses hidrasi, yaitu agar biji
kedelai menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan juga dimaksudkan untuk
melunakkan biji kedelai supaya nantinya dapat menyerap asam pada tahap
perendaman.
Kulit biji kedelai
dikupas pada tahap pengupasan agar miselium fungi dapat menembus biji kedelai
selama proses fermentasi. Pengupasan dapat dilakukan dengan tangan,
diinjak-injak dengan kaki, atau dengan alat pengupas kulit biji.
Setelah dikupas, biji
kedelai direndam. Tujuan tahap perendaman ialah untuk hidrasi biji kedelai dan
membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat secara alami agar diperoleh keasaman yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi. Fermentasi
asam laktat terjadi dicirikan oleh munculnya bau asam dan buih pada air
rendaman akibat pertumbuhan bakteri Lactobacillus.
Bila pertumbuhan bakteri asam laktat tidak optimum (misalnya di negara-negara subtropis,
asam perlu ditambahkan pada air rendaman. Fermentasi asam laktat dan pengasaman
ini ternyata juga bermanfaat meningkatkan nilai gizi dan menghilangkan
bakteri-bakteri beracun.
Proses pencucian
akhir dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin dibentuk oleh bakteri
asam laktat dan agar biji kedelai tidak terlalu asam. Bakteri dan kotorannya
dapat menghambat pertumbuhan fungi.
Inokulasi dilakukan
dengan penambahan inokulum, yaitu ragi tempe atau laru. Inokulum dapat berupa kapang yang
tumbuh dan dikeringkan pada daun waru atau daun jati (disebut usar; digunakan secara tradisional), spora
kapang tempe dalam medium tepung (terigu, beras, atau tapioka; banyak dijual di
pasaran), ataupun kultur R. oligosporus murni (umum digunakan
oleh pembuat tempe di luar Indonesia). Inokulasi dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu (1) penebaran inokulum pada permukaan kacang kedelai yang sudah
dingin dan dikeringkan, lalu dicampur merata sebelum pembungkusan; atau (2)
inokulum dapat dicampurkan langsung pada saat perendaman, dibiarkan beberapa
lama, lalu dikeringkan.
Setelah diinokulasi,
biji-biji kedelai dibungkus atau ditempatkan dalam wadah untuk fermentasi.
Berbagai bahan pembungkus atau wadah dapat digunakan (misalnya daun pisang, daun
waru, daun jati, plastik, gelas, kayu, dan baja), asalkan memungkinkan masuknya
udara karena kapang tempe membutuhkan oksigen untuk tumbuh. Bahan pembungkus
dari daun atau plastik biasanya diberi lubang-lubang dengan cara ditusuk-tusuk.
Biji-biji kedelai
yang sudah dibungkus dibiarkan untuk mengalami proses fermentasi.
Pada proses ini kapang tumbuh pada permukaan dan menembus biji-biji kedelai,
menyatukannya menjadi tempe. Fermentasi dapat dilakukan pada suhu
20 °C–37 °C selama 18–36 jam. Waktu fermentasi yang lebih singkat
biasanya untuk tempe yang menggunakan banyak inokulum dan suhu yang lebih
tinggi, sementara proses tradisional menggunakan laru dari daun biasanya
membutuhkan waktu fermentasi sampai 36 jam.
Sejarah
dan perkembangan
Asal-usul
Tempe berwarna
keputih-putihan akibat hifa kapang yang melekatkan biji-biji kedelai.
Tidak seperti makanan
kedelai tradisional lain yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, tempe
berasal dari Indonesia.
Tidak jelas kapan pembuatan tempe dimulai. Namun demikian, makanan tradisonal
ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu, terutama dalam tatanan budaya makan
masyarakat Jawa,
khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan seting Jawa abad ke-16 (Serat Centhini sendiri ditulis pada awal abad ke-19) telah ditemukan kata
"tempe", misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe
(sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan. Hal
ini dan catatan sejarah yang tersedia lainnya menunjukkan bahwa mungkin pada
mulanya tempe diproduksi dari kedelai hitam , berasal dari masyarakat pedesaan tradisional
Jawa—mungkin dikembangkan di daerah Mataram, Jawa Tengah,
dan berkembang sebelum abad ke-16.
Kata
"tempe" diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat
dari tepung sagu yang disebut tumpi. Tempe segar yang juga berwarna
putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tumpi tersebut.
Selain itu terdapat
rujukan mengenai tempe dari tahun 1875 dalam sebuah kamus bahasa Jawa-Belanda.
Sumber lain mengatakan bahwa pembuatan tempe diawali semasa era Tanam Paksa
di Jawa. Pada saat itu, masyarakat Jawa terpaksa menggunakan hasil pekarangan,
seperti singkong, ubi, dan kedelai,
sebagai sumber pangan. Selain itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa
tempe mungkin diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa
yang memproduksi makanan sejenis, yaitu koji kedelai yang
difermentasikan menggunakan kapang Aspergillus. Selanjutnya, teknik
pembuatan tempe menyebar ke seluruh Indonesia,
sejalan dengan penyebaran masyarakat Jawa yang bermigrasi ke seluruh penjuru Tanah Air.
Tempe
di Indonesia
Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai
terbesar di Asia.
Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% Tahu , dan 10% dalam bentuk
produk lain (seperti tauco, kecap,
dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat
ini diduga sekitar 6,45 kg.
Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, para
tawanan perang yang diberi makan tempe terhindar dari disentri dan busung
lapar. Sejumlah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1940-an sampai dengan
1960-an juga menyimpulkan bahwa banyak tahanan Perang Dunia II berhasil selamat karena tempe. Menurut Onghokham,
tempe yang kaya protein telah menyelamatkan kesehatan penduduk Indonesia yang
padat dan berpenghasilan relatif rendah.
Namun, nama 'tempe'
pernah digunakan di daerah perkotaan Jawa, terutama Jawa tengah, untuk mengacu
pada sesuatu yang bermutu rendah. Istilah seperti 'mental tempe' atau 'kelas
tempe' digunakan untuk merendahkan dengan arti bahwa hal yang dibicarakan
bermutu rendah karena murah seperti tempe. Soekarno, Presiden Indonesia pertama, sering
memperingatkan rakyat Indonesia dengan mengatakan, "Jangan menjadi bangsa
tempe." Baru pada pertengahan 1960-an pandangan mengenai tempe ini mulai
berubah.
Pada akhir 1960-an
dan awal 1970-an terjadi sejumlah perubahan dalam pembuatan tempe di Indonesia.
Plastik (polietilena)
mulai menggantikan daun pisang untuk membungkus tempe, ragi berbasis tepung
(diproduksi mulai 1976 oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan banyak digunakan oleh Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia, Kopti) mulai
menggantikan laru tradisional, dan kedelai impor mulai menggantikan kedelai
lokal. Produksi tempe meningkat dan industrinya mulai dimodernisasi pada tahun
1980-an, sebagian berkat peran serta Kopti yang berdiri pada 11 Maret 1979 di Jakarta
dan pada tahun 1983 telah beranggotakan lebih dari 28.000 produsen tempe dan
tahu.
Standar teknis untuk tempe telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) dan yang
berlaku sejak 9 Oktober 2009 ialah SNI 3144:2009. Dalam standar tersebut, tempe
kedelai didefinisikan sebagai "produk yang diperoleh dari fermentasi biji
kedelai dengan menggunakan kapang Rhizopus sp., berbentuk padatan
kompak, berwarna putih sedikit keabu-abuan dan berbau khas tempe".
Tempe
di Luar Indonesia
Tempe dikenal oleh
masyarakat Eropa
melalui orang-orang Belanda. Pada tahun 1895, Prinsen Geerlings (ahli kimia dan mikrobiologi
dari Belanda) melakukan usaha yang pertama kali untuk mengidentifikasi kapang
tempe. Perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa dimulai di Belanda
oleh para imigran dari Indonesia.
Melalui Belanda,
tempe telah populer di Eropa sejak tahun 1946. Sementara itu, tempe populer di Amerika Serikat setelah pertama kali dibuat di sana pada tahun 1958 oleh Yap Bwee Hwa,
orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah mengenai tempe.
Di Jepang,
tempe diteliti sejak tahun 1926 tetapi baru mulai diproduksi secara komersial sekitar
tahun 1983.
Pada tahun 1984
sudah tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di Amerika,
dan 8 di Jepang.
Di beberapa negara lain, seperti Republik Rakyat Cina (RRC), India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin, dan Afrika,
tempe sudah mulai dikenal di kalangan terbatas.
Khasiat
dan Kandungan Gizi
Tempe dapat diolah
menjadi berbagai jenis masakan, misalnya tumis tempe dan buncis ini.
Tempe berpotensi
untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses
penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker,dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol
darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi,
dan lain-lain.
Komposisi gizi tempe
baik kadar protein, lemak,
dan karbohidrat
tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai.
Namun, karena adanya enzim
pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan
karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna
di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena itu, tempe
sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lanjut usia), sehingga bisa
disebut sebagai makanan semua umur.
Dibandingkan dengan
kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal
ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut,
asam amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein, serta
skor proteinnya.
Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan
tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai. Ini telah dibuktikan pada
bayi dan anak balita penderita gizi buruk dan diare kronis.
Dengan pemberian
tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk akan meningkat dan diare
menjadi sembuh dalam waktu singkat. Pengolahan kedelai menjadi tempe akan
menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya
gejala flatulensi (kembung perut).
Mutu gizi tempe yang
tinggi memungkinkan penambahan tempe untuk meningkatkan mutu serealia dan
umbi-umbian. Hidangan makanan sehari-hari yang terdiri dari nasi, jagung, atau
tiwul akan meningkat mutu gizinya bila ditambah tempe.
Sepotong tempe goreng
(50 gram) sudah cukup untuk meningkatkan mutu gizi 200 g nasi. Bahan makanan
campuran beras-tempe, jagung-tempe, gaplek-tempe, dalam perbandingan 7:3, sudah
cukup baik untuk diberikan kepada anak balita.
Asam
Lemak
Selama proses
fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan
terhadap lemak. Dengan demikian, asam lemak tidak jenuh majemuk (polyunsaturated
fatty acids, PUFA) meningkat jumlahnya.
Dalam proses itu asam palmitat dan asam linoleat sedikit
mengalami penurunan, sedangkan kenaikan terjadi pada asam oleat dan linoleat (asam linolenat tidak terdapat
pada kedelai). Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek penurunan
terhadap kandungan kolesterol serum, sehingga dapat
menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh.
Vitamin
Dua kelompok vitamin
terdapat pada tempe, yaitu larut air (vitamin B kompleks) dan
larut lemak (vitamin A, D, E, dan K).
Tempe merupakan sumber vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang
terkandung dalam tempe antara lain vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asam
pantotenat, asam nikotinat (niasin), vitamin B6 (piridoksin), dan B12
(sianokobalamin).
Vitamin B12 umumnya
terdapat pada produk-produk hewani dan tidak dijumpai pada makanan nabati
(sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian), namun tempe mengandung vitamin B12
sehingga tempe menjadi satu-satunya sumber vitamin yang potensial dari bahan
pangan nabati. Kenaikan kadar vitamin B12 paling mencolok pada pembuatan tempe;
vitamin B12 aktivitasnya meningkat sampai 33 kali selama fermentasi dari
kedelai, riboflavin naik sekitar 8-47 kali, piridoksin 4-14 kali, niasin 2-5
kali, biotin 2-3 kali, asam folat 4-5 kali, dan asam pantotenat 2 kali lipat.
Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe, tetapi oleh bakteri kontaminan
seperti Klebsiella pneumoniae dan Citrobacter freundii.
Kadar vitamin B12
dalam tempe berkisar antara 1,5 sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering.
Jumlah ini telah dapat mencukupi kebutuhan vitamin B12 seseorang per hari.
Dengan adanya vitamin B12 pada tempe, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan vitamin B12, sepanjang mereka
melibatkan tempe dalam menu hariannya.
Mineral
Tempe mengandung
mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Jumlah mineral besi, tembaga, da zink
berturut-turut adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe.
Kapang tempe dapat
menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang mengikat
beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan
terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium dan zink)
menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.
Antioksidan
Di dalam tempe juga
ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isolavon. Seperti halnya
vitamin C, E, dan karotenoid, isoflavon juga merupakan antioksidan yang sangat
dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas.
Dalam kedelai
terdapat tiga jenis isoflavon yaitu daidzen, glistein, dan genistein. Pada tempe, di
samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II
(6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat
dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada
saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus
luteus dan Coreyne bacterium.
Penuaan(aging) dapat dihambat bila dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari
mengandung antioksidan yang cukup. Karena tempe merupakan sumber antioksidan
yang baik, konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat mencegah
terjadinya proses penuaan dini.
Penelitian yang
dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat , menemukan bahwa genestein da fitoestrogen yang terdapat
pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat dan payudara.
Tempe
bukan kedelai
Selain tempe berbahan
dasar kacang kedelai, terdapat pula berbagai jenis makanan berbahan bukan
kedelai yang juga disebut tempe. Terdapat dua golongan besar tempe menurut
bahan dasarnya, yaitu tempe berbahan dasar legumdan tempe berbahan dasar non-legum.
Tempe bukan kedelai
yang berbahan dasar legum mencakup tempe koro benguk (dari biji kara/koro benguk), Mucuna
pruriens L.D.C. var. utilis, berasal dari sekitar Waduk Kedungombo, tempe
gude (dari kacang gude, Cajanus cajan), tempe
gembus (dari ampas kacang gude pada
pembuatan pati, populer di Lombok dan Bali bagian timur), tempe kacang hijau (dari kacang hijau,
terkenal di daerah Yogyakarta), tempe kacang kecipir (dari kecipir,
Psophocarpus tetragonolobus), tempe kara pedang (dari biji kara pedang anavalia
ensiformis), tempe lupin (dari lupin, Lupinus
angustifolius), tempe kacang merah (dari kacang merah,
Phaseolus vulgaris), tempe kacang tunggak (dari kacang tunggak, Vigna unguiculata), tempe kara wedus (dari biji kara wedus Lablab
purpures), tempe kara (dari kara kratok, Phaseolus
lunatus, banyak ditemukan di Amerika Utara), dan tempe menjes (dari kacang tanah dan kelapa terkenal di sekitar Malang).
Tempe berbahan dasar
non-legum mencakup tempe mungur (dari biji mungur, Enterolobium
samon), tempe bongkrek (dari bungkil kapuk atau ampas kelapa,
terkenal di daerah Banyumas), tempe garbanzo (dari ampas kacang atau ampas
kelapa, banyak ditemukan di Jawa Tengah, tempe biji karet (dari biji karet, ditemukan di daerah Sragen,
jarang digunakan untuk makanan), dan tempe jamur merang (dari Jamur Merang).
Kacang
panjang merupakan tumbuhan yang dijadikan sayur atau lalapan.
Ia tumbuh dengan cara memanjat atau melilit. Bagian yang dijadikan sayur atau
lalapan adalah buah pokok tersebut. Ia mudah didapati di kawasan panas di Asia.
Klasifikasi
:
Divisi
: Spermatophyta
Sub
divisi : Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Bangsa
: Rosales
Suku
: Leguminosae
(Papilionaceae)
Marga
: Vigna
Jenis
: Vigna
cylindrica (L.) Skeels
Nutrisi
Kacang
Panjang adalah sumber protein yang baik, vitamin A, thiamin, riboflavin, besi,
fosfor, kalium, vitamin C, folat, magnesium, dan mangan.
Nilai
gizi kacang panjang (mentah) per 100 g (3.5 oz)
Energi
: 196 kJ (47 kcal)
Karbohidrat
: 8 g
Diet
serat : 3,6 g
Lemak
: 0 g
Protein
: 3 g
Persentase
yang relatif ke US rekomendasi untuk orang dewasa. Sumber: USDA Nutrient Database
Dalam
ukuran porsi 100 gram kacang terdapat 47 kalori, 0 gram lemak total, kolesterol
0 mg, natrium 4 mg (0% nilai harian), 8 gram karbohidrat total (2% nilai
harian), dan 3 gram protein (nilai harian 5%). Ada juga 17% DV vitamin A, 2% DV
besi, 31% DV vitamin C, dan 5% DV kalsium. (Persen nilai harian berdasarkan
diet 2000 kalori nilai harian individu bisa lebih tinggi atau lebih rendah
tergantung pada kebutuhan kalori masing-masing.)
Sebagai Obat
Selain
sebagai masakan, ternyata Kacang Panjang juga dapat digunakan sebagai bahan
obat-obatan untuk mengobati beberapa penyakit seperti diantaranya :
antikanker, kanker payudara, leukemia, antibakteri, antivirus, antioksidan,
gangguan saluran kencing, peluruh kencing, batu ginjal, mencegah kelainan
antibodi, meningkatkan fungsi limpa, meningkatkan penyatuan DNA dan RNA,
meningkatkan fungsi sel darah merah, beri-beri, demam berdarah, kurang darah,
sakit pinggang, rematik, pembengkakan, meningkatkan nafsu makan, dan sukar
buang air besar.
Cara
pengolahan kacang panjang untuk mencegah dan mengatasi beberapa penyakit
seperti:
·Pembengkakan:
200 gram kacang panjang + 20 gram bawang putih + gula merah secukupnya dimasak
menjadi sup dan dimakan secara teratur.
·Peluruh kencing :
150 gram seluruh bagian tumbuhan kacang panjang + 30 gram kulit semangka
direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 200 cc saring airnya dan diminum.
·Sakit pinggang :
200 gram biji kacang panjang + 20 gram jahe merah + 25 gram kencur direbus
dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc saring airnya dan diminum.
·Meningkatkan
stamina, cepat lelah: 100 gr kacang panjang + 5 buah angco dibuang bijinya
+ 25 gram kencur direbus dengan air 600 cc air hingga tersisa 200 cc, saring
lalu tambahkan madu secukupnya, airnya diminum, angco dan kacang panjangnya
dimakan.
·Batu ginjal:
200 gram kacang panjang + 200 gram asparagus diblender dengan air secukupnya
hingga tertampung 200 cc lalu direbus hingga mendidih dan airnya diminum hangat
-hangat.
·Kurang darah
(anemia): 200 gram kacang panjang + 100 gram anggur + hati ayam secukupnya
dimasak sesuai selera, dimakan secara teratur.
·Menambah nafsu
makan: 100 gram kacang panjang + 40 gram temulawak + 3 buah kiam boi/sun
boi direbus dengan air secukupnya, saring lalu airnya ditambakan madu secukupnya
dan diminum.
·Sembelit:
200 gram kacang panjang + 100 gram daun ubi jalar dimasak sesuai selera dimakan
secara teratur.
·Antikanker:
kacang panjang + buncis + brokoli + wortel masing-masing secukupnya dimasak
menjadi tumisan dengan ditambah bumbu-bumbu hingga matang, dimakan secara
teratur.
Catatan:
Lakukan 2 kali sehari secara teratur dan tetap konsultasi ke dokter
Sumber lain menyebutkan, Kacang panjang mengandung enam antosianin (sianidin
3-O-galaktosida, sianidin 3-O-glukosida, delfinidin 3-O-glukosida, malvidin
3-O-glukosida, peonidin3-O-glukosida, dan petunidin 3-O-glukosida), flavonol
atau glikosida flavonol (kaempferol 3-O-glukosida, quersetin, quersetin
3-O-glukosida, kuersetin 3-O-6′-asetilglukosida) (Wong and Chang, 2004),
aglikon flavonoid (kuersetin, kaempferol, isorhamnetin) (Lattanzio et al.,
2000). Daun dan akarnya mengandung saponin dan polifenol (Hutapea, 1994).
Selain itu juga mengandung protein, karbohidrat, lemak, serat, kalsium, besi,
fosfor, potasium, sodium, vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, dan niasin (Handri
and Rafira, 2003). Kandungan senyawa-senyawa di dalam kacang panjang ini
berperan dalam proses proliferasi, diferensiasi, dan sintesis protein di sel
target yang berbeda-beda. Secara empiris, tanaman kacang panjang dimanfaatkan
untuk merawat dan memperbesar payudara.
Sumber
: Wikipedia.org http://ccrcfarmasiugm.wordpress.com/ensiklopedia/ensiklopedia-tanaman-anti-kanker/k/kacang-panjang/
Tomat (Solanum
lycopersicum syn. Lycopersicum esculentum) adalah tumbuhan
dari keluarga Solanaceae, tumbuhan asli Amerika
Tengah dan Selatan, dari Meksiko
sampai Peru.
Tomat merupakan tumbuhan siklus hidup singkat, dapat tumbuh setinggi 1 sampai 3
meter. Tomat merupakan keluarga dekat dari kentang.
Menurut
tulisan karangan Andrew F. Smith "The Tomato in America", tomat
kemungkinan berasal dari daratan tinggi pantai barat Amerika
Selatan. Setelah Spanyol menguasai Amerika Selatan, mereka menyebarkan tanaman
tomat ke koloni-koloni mereka di Karibia. Spanyol juga kemudian membawa tomat ke Filipina,
yang menjadi titik awal penyebaran ke daerah lainnya di seluruh benua Asia. Spanyol
juga membawa tomat ke Eropa.
Tanaman ini tumbuh dengan mudah di wilayah beriklim Mediterania.
Terdapat
ratusan kultivar tomat yang dibudidayakan dan diperdagangkan. Pengelompokan
hampir selalu didasarkan pada penampilan atau kegunaan buahnya.
Terdapat
buah tomat dengan kisaran warna dari hijau ketika masak, kuning, jingga, merah,
ungu (hitam), serta belang-belang.
Dari
ukuran dan bentuk, orang mengenal kelompok tomat
granola
yang bentuknya bulat dengan pangkal buah mendatar dan mencakup yang
biasanya dikenal sebagai tomat buah (karena dapat dimakan
langsung),
gondol
yang biasa dibuat saus
dengan bentuk lonjong oval (biasanya yang ditanam di Indonesia adalah
kultivar 'Gondol Hijau' dan 'Gondol Putih', dan keturunan dari kultivar
impor 'Roma') dan termasuk pula tomat buah,
sayur
adalah tomat dengan buah biasanya padat dan dipakai untuk diolah dalam
masakan
ceri
(tomat ranti) yang berukuran kecil dan tersusun berangkai pada tangkai
buah yang panjang.
Orang
mengenal tomat buah, tomat sayur, serta tomat lalapan. Berdasarkan hal ini,
fungsi tomat merupakan klasifikasi dari buah maupun sayuran, walaupun struktur
tomat adalah struktur buah.
Tomat, adalah tanaman yang paling mudah
dijumpai. Warnanya yang cerah sungguh menarik. Selain kaya vitamin C dan A,
tomat konon dapat mengobati bermacam penyakit.
Kalau dirunut
sejarahnya, tomat atau Lyopercisum esculentum pada mulanya
ditemukan di sekitar Peru, Ekuador dan Bolivia. Di Prancis, tomat dinamakan ‘apel
cinta’ atau pomme d’amour. Dikatakan sebagai apel cinta,
karena tomat diyakini mampu memulihkan lemah syahwat dan meningkatkan jumlah
sperma serta menambah kegesitan gerakannya.
Tomat juga
banyak digunakan untuk masakan, seperti sup, jus, pasta, dllnya. Rasanya yang
sedikit asam bahkan membuat selera makan meningkat. Lebih jauh menurut
penelitian DR. John Cook Bennet dari Wiloughby University, Ohio, sebagai orang
pertama yang meneliti manfaat tomat, pada November 1834, menunjukkan bahwa
tomat dapat mengobati diare, serangan empedu,gangguan pencernaan dan memulihkan
fungsi lever. Peneliti lain dari Rowett Research Institute di Aberdeen,
Skotlandia, juga berhasil menemukan manfaat tomat lainnya. Menurutnya, gel
berwarna kuning yang menyelubungi biji tomat dapat mencegah penggumpalan dan
pembekuan darah yang dapat menyebabkan penyakit jantung dan stroke.
Hal ini juga diakui oleh dokter gizi, Dr.
Leane Suniar Manurung, MSc. Melihat khasiat tomat begitu banyak, maka tomat
baik dikonsumsi siapapun sejak usia dini. “Apalagi tomat juga timggi
kandungan vitamin C dan vitamin A, yang bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan
tubuh.” Tapi tomat seperti apa yang baik dikonsumsi? Jika melihat
dipasaran, kita bisa menemukan tomat dengan dua warna, yakni warna merah dan
hijau. Perbedaan warna ini menunjukan kandungan vitaminnya. Menurut Leane,
tomat yang baik dikonsumsi adalah tomat merah. Tomat berwarna merah
mengandung vitamin C dan vitamin A lima kali lebih banyak dibandingkan dengan
tomat hijau. Semakin matang tomat, semakin kaya kandungan vitaminnya.
“Karena itu anak kecil sebaiknya dibiasakan banyak makan tomat merah. Ini
penting untuk kesehatan matanya,” ujar Leane. Jadi, tak pelu ragu memberi si
kecil tomat. Sejak usia 6 bulan, seorang anak mulai dibiasakan memakan tomat
yang dicampur dengan sayuran lainnya.
Menghancurkan Radikal Bebas.
Diolah, Menjadi Lebih Baik
Dalam pigmen warna merah pada tomat, mempunyai
nilai lebih lainnya. Warna merah pada tomat lebih banyak mengandung lycopene,
yaitu suatu zat antioksidan yang dapat menghancurkan radikal bebas dalam
tubuh akibat rokok, polusi dan sinar ultraviolet. Selain itu, belakangan
diketahui lycopene juga berkhasiat membantu mencegah kerusakan sel yang
dapat mengakibatkan kanker leher rahim, kanker prostat, kanker perut dan kanker
pankreas. “Memang lycopene tidak hanya ditemukan pada tomat, tetapi juga
pada anggur merah, semangka dan pepaya. Namun, lycopene yang paling banyak
terdapat pada tomat.” terang Leane.
Untuk mendapat
khasiatnya, terutama untuk orang dewasa, lanjut Leane tomat sebaiknya dimakan
setiap pagi sebanyak satu atau dua buah. Rasa asam pada tomat berasal dari
kandungan asam sitrat menyebabkan tomat terasa segar, sehingga dapat menambah
nafsu makan. Rasa asam ini sangat baik dokonsumsi saat kita mengalami mual atau
dikonsumsi oleh para wanita yang mengalami PMS (Pre Menstrual Syndrome). Jika
tak kuat dengan rasa masamnya, terutama untuk yang yang memiliki penyakit maag,
Leane tak menyarankan mengkonsumsinya walapun dalam bentuk jus yang sudah
ditambah gula, sebab akanmemperburuk kondisi penyakit.
Berbeda dengan sayuran lainnya yang lebih
bermanfaat jika dimakan mentah-mentah, ternyata tomat lebih baik dicampur
dengan masakan atau dihancurkan sebelum dimakan. Para peneliti menemukan
lycopene yang dikeluarkan pada tomat tersebut lebih banyak dibandingkan dengan
tomat yang langsung dimakan tanpa diolah terlebih dahulu. Sayangnya, meskipun
kandungan lycopennya berlimpah, pasta tomat dan saus tomat yang dijual
dipasaran sudah banyak dibubuhi bahan tambahan makanan seperti pewarna atau
pengawet sintetis. Bahan tambahan ini justru merangsang munculnya banyak
radikal bebas yang memicu kanker.
Manfaat Tomat :
Membantu menurunkan resiko
gangguan jantung.
Menghilangkan kelelahan dan
menambah nafsu makan.
Menghambat pertumbuhan sel
kanker pada prostat, leher rahim, payudara dan endometrium.
Memperlambat penurunan fungsi
mata karena pengaruh usia (age-related macular degeneration).
Mengurangi resiko radang usus
buntu.
Membantu menjaga kesehatan
organ hati, ginjal, dan mencegah kesulitan buang air besar.
Mentimun,
timun, atau ketimun (Cucumis sativusL.;
suku labu-labuan atau Cucurbitaceae) merupakan tumbuhan
yang menghasilkan buah yang dapat dimakan. Buahnya biasanya dipanen ketika
belum masak benar untuk dijadikan sayuran atau penyegar,
tergantung jenisnya. Mentimun dapat ditemukan di berbagai hidangan dari seluruh
dunia dan memiliki kandungan air yang cukup banyak di
dalamnya sehingga berfungsi menyejukkan. Potongan buah mentimun juga digunakan
untuk membantu melembabkan wajah serta banyak
dipercaya dapat menurunkan tekanan darah tinggi.
Habitus mentimun berupa herba lemah melata atau
setengah merambat dan merupakan tanaman semusim: setelah berbunga dan berbuah
tanaman mati. Perbungaannya berumah satu (monoecious) dengan tipe bunga
jantan dan bunga hermafrodit (banci). Bunga pertama yang dihasilkan,
biasanya pada usia 4-5 minggu, adalah bunga jantan. Bunga-bunga selanjutnya
adalah bunga banci apabila pertumbuhannya baik. Satu tumbuhan dapat
menghasilkan 20 buah, namun dalam budidaya biasanya jumlah buah dibatasi untuk
menghasilkan ukuran buah yang baik.
Buah berwarna hijau ketika muda dengan
larik-larik putih kekuningan. Semakin buah masak warna luar buah
berubah menjadi hijau pucat sampai putih. Bentuk buah
memanjang seperti torpedo. Daging buahnya
perkembangan dari bagian mesokarp, berwarna kuning pucat sampai jingga
terang. Buah dipanen ketika masih setengah masak dan biji belum masak fisiologi. Buah yang masak biasanya mengering dan
biji dipanen, warnanya hitam.
Sebagian besar dari
kita mungkin sering mengonsumsi buah mentimun atau ketimun. Buah yang dalam
bahasa latin bernama Cucumis
sativus ini sering kita jumpai dalam
setiap hidangan, terutama lalapan, salad, atau acar. Mentimun memiliki
kandungan air yang cukup tinggi sehingga berfungsi menyejukkan.
Potongan buah
mentimun juga kerap digunakan untuk membantu melembabkan wajah serta dipercaya
dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Namun, untuk mengetahui lebih lanjut
mengenai nutrisi dan manfaat kesehatan yang terdapat dalam mentimun, mari kita
jelajahi area kesehatan apa saja yang didapat dari konsumsi buah yang termasuk
suku labu-labuan ini.
1. Perawatan
kulit
Mentimun memiliki sifat diuretik, efek
pendingin, dan pembersih yang bermanfaat bagi kulit. Kandungan air yang tinggi;
vitamin A, B, dan C; serta mineral, seperti magnesium, kalium, mangan, dan
silika; membuat mentimun menjadi bagian penting dalam perawatan kulit. Masker
wajah yang mengandung sari mentimun digunakan untuk mengencangkan kulit. Asam
askorbat dan asam caffeic
yang hadir dalam mentimun dapat menurunkan tingkat retensi air, yang pada
gilirannya mengurangi pembengkakan di sekitar mata.
2. Fungsi pencernaan
Masalah pencernaan, seperti mag, gastritis
keasaman, dan bahkan tukak, dapat disembuhkan dengan mengonsumsi jus mentimun
segar setiap hari. Kandungan serat makanan dalam mentimun dapat mengusir racun
dari sistem pencernaan sehingga memingkatkan proses pencernaan. Bahkan,
mengonsumsi mentimun setiap hari dinilai sangat ampuh sebagai obat sembelit.
3. Kesehatan sendi
Dalam mentimun terkandung silika yang dapat
mempromosikan kesehatan sendi Anda dengan memperkuat jaringan ikat.
4. Pencernaan
protein
Mentimun mengandung enzim erepsin yang
membantu dalam pencernaan protein.
5. Tekanan darah
Potasium, magnesium, dan serat yang hadir
pada mentimun dapat membantu Anda menjaga tekanan darah tetap normal.
6. Membunuh cacing
pita
Biji mentimun dianggap sebagai obat alami
untuk mengusir cacing pita di saluran usus. Bahkan, biji mentimun juga dikenal
bermanfaat sebagai antiinflamasi serta efektif dalam pengobatan pembengkakan
selaput lendir (hidung) dan tenggorokan.
7. Perawatan
kuku
Mentimun kaya akan kandungan silika, dapat
mencegah pecah dan rusaknya kuku-kuku di jari kaki dan tangan.
8. Atasi encok dan
rematik
Jus mentimun diperkaya kandungan vitamin A,
B1, B6, C, dan D serta folat, magnesium, dan kalsium ketika dicampur dengan jus
wortel dapat membantu pasien yang mengalami nyeri sendi dengan cara menurunkan
asam urat.
9. Mengobati sakit
gigi dan gusi
Penyakit mulut pada gigi dan gusi, khususnya pyorrhea, dapat diobati
secara efektif dengan jus mentimun. Konsumsi mentimun mentah juga dapat
meningkatkan air liur serta berfungsi menetralisasi asam dan basa di dalam
rongga mulut.
10. Diabetes
Jus mentimun dikenal dapat membantu kesehatan
pasien diabetes. Kandungan mineral mangan bermanfaat dalam sintesis insulin
alami di dalam tubuh.
11. Perawatan
ginjal
Mentimun menunjukkan manfaat dalam membantu
meringankan masalah kandung kemih dan ginjal. Air yang terkandung dalam
mentimun membantu fungsi ginjal dengan melancarkan proses urinasi. Faktanya,
mentimun merupakan diuretik alami terbaik.
12. Suburkan
rambut
Mentimun mengandung silika. Jus mentium yang
dicampur dengan wortel, bayam, dan selada akan membantu penyuburan rambut.
Silika terdapat dalam jaringan ikat di dalam tubuh. Senyawa ini membantu
pertumbuhan rambut sehingga jika rajin mengonsumsi makanan mengandung silika,
Anda akan memiliki rambut yang bagus dan tulang yang sehat.
Satu biji buah mentimum sendiri
mengandung 0.65% protein, 0.1% lemak, 2.2% karbohidrat, kalsium, zat besi,
magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C.
Berikut ini cara-cara pengobatan
penyakit dengan menggunakan buah mentimun:
Untuk
pengobatan tekanan darah tinggi, parut buah mentimun dan peras airnya,
kemudian diminum. Lakukan 2-3 kali sehari.
Untuk
pengobatan sariawan, makanlah 9 buah mentimun setiap hari secara rutin.
Untuk
membersihkan ginjal, parut buah mentimun dan peras airnya. Minum sedikit
demi sedikit hingga lambung terbiasa menerima cairan mentimun. Lakukan
secara rutin.
Untuk
demam, parut buah mentimun dan letakkan hasil parutannya di atas perut.
Untuk
jerawat, cuci dan iris kecil-kecil buah mentimun, lalu letakkan irisannya
di atas bagian wajah yang berjerawat.